cerpen singkat tentang sekolah
Cerpen Singkat: Jejak Pena di Dinding Sekolah
Judul: Bisik-Bisik di Balik Papan Tulis
Rembulan menyelinap malu di balik awan kelabu. Jam dinding di ruang guru berdentang pelan, menandakan pukul sembilan malam. Sekolah, yang biasanya riuh rendah dengan celoteh dan tawa, kini sunyi senyap. Namun, di kelas 10-IPA 2, ada keheningan yang berbeda. Keheningan yang menyimpan cerita.
Di sudut kelas, di balik papan tulis yang penuh coretan rumus fisika dan catatan biologi, tersembunyi sebuah lemari tua. Lemari itu bukan hanya menyimpan buku-buku usang dan alat peraga yang jarang dipakai, tetapi juga menyimpan rahasia. Rahasia tentang persahabatan, cinta monyet, dan mimpi-mimpi yang belum terwujud.
Malam itu, dua sosok menyelinap masuk ke dalam kelas. Mereka adalah Rani dan Budi, sahabat karib sejak bangku sekolah dasar. Rani, dengan rambut dikepang dua dan kacamata tebalnya, adalah otak di kelas. Budi, dengan rambut gondrongnya dan gitar di punggungnya, adalah seniman yang selalu mencari inspirasi.
“Kau yakin dengan ini, Budi?” bisik Rani, matanya memindai sekeliling ruangan. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela menerangi wajahnya yang ragu.
“Tenang saja, Rani. Ini untuk kenangan kita,” jawab Budi, suaranya berbisik namun penuh semangat. Ia mengeluarkan sebotol cat semprot berwarna biru dari tasnya.
Mereka berdua menghampiri lemari tua di sudut kelas. Debu tebal menempel di permukaannya. Budi membersihkannya dengan telapak tangannya.
“Ingat waktu kita pertama kali bertemu di kelas ini?” tanya Budi, senyumnya mengembang.
Rani mengangguk. “Bagaimana aku bisa lupa? Kau menumpahkan tinta di rok baruku!”
Mereka tertawa pelan, mengenang masa-masa awal persahabatan mereka. Dulu, mereka sering bertengkar karena hal-hal sepele. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka semakin dekat. Mereka saling mendukung dalam suka dan duka.
Budi membuka tutup botol cat semprot. Aroma cat yang menyengat memenuhi ruangan. Ia mulai menyemprotkan cat biru di dinding lemari.
“Apa yang akan kau gambar?” tanya Rani, penasaran.
“Kau lihat saja nanti,” jawab Budi, matanya fokus pada pekerjaannya.
Dengan cekatan, Budi membentuk garis-garis dan lekukan-lekukan di dinding lemari. Rani hanya bisa terpana melihat keahlian Budi dalam melukis.
Beberapa saat kemudian, sebuah gambar mulai terbentuk. Gambar itu adalah pohon rindang dengan akar yang kuat dan daun yang lebat. Di bawah pohon itu, terdapat dua sosok anak kecil yang sedang duduk bersandar, saling bergandengan tangan.
“Ini⦠ini kita?” tanya Rani, suaranya bergetar.
Budi mengangguk. “Ini adalah simbol persahabatan kita, Rani. Pohon ini adalah kita. Akarnya adalah kenangan kita. Daunnya adalah mimpi-mimpi kita.”
Rani terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa Budi akan membuat sesuatu yang begitu indah dan bermakna.
“Tapi kenapa harus di dinding lemari ini?” tanya Rani, penasaran.
“Karena lemari ini adalah saksi bisu persahabatan kita. Lemari ini telah melihat semua suka dan duka kita. Lemari ini adalah bagian dari sejarah kita,” jawab Budi.
Budi melanjutkan pekerjaannya. Ia menambahkan beberapa detail pada gambar tersebut. Ia menggambar burung-burung yang beterbangan di sekitar pohon, dan awan-awan putih yang berarak di langit biru.
Setelah selesai, Budi mundur beberapa langkah untuk mengamati hasil karyanya. Ia tersenyum puas.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Budi.
Rani tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Gambar itu begitu indah dan menyentuh hatinya.
“Ini adalah hadiah perpisahan untukmu, Rani,” kata Budi. “Aku tahu kau akan melanjutkan kuliah di luar kota. Aku harap gambar ini akan selalu mengingatkanmu tentang persahabatan kita.”
Rani memeluk Budi erat. “Terima kasih, Budi. Aku tidak akan pernah melupakanmu.”
Mereka berdua berdiri di depan lemari tua itu, mengagumi hasil karya Budi. Mereka tahu bahwa persahabatan mereka akan tetap abadi, meskipun jarak memisahkan mereka.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat. Mereka berdua terkejut dan langsung bersembunyi di balik lemari.
“Siapa itu?” bisik Rani, ketakutan.
“Aku tidak tahu,” jawab Budi, suaranya bergetar.
Langkah kaki itu semakin mendekat. Kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang guru piket masuk ke dalam kelas. Ia menyalakan lampu dan mengamati sekeliling ruangan.
Guru piket itu melihat lemari tua yang telah dicat biru. Ia terkejut dan mendekati lemari itu. Ia mengamati gambar pohon dan dua anak kecil yang sedang duduk bersandar.
Guru piket itu tersenyum. Ia tahu bahwa ada cerita di balik gambar itu. Ia tahu bahwa ada persahabatan yang tulus di balik coretan cat biru itu.
Guru piket itu mematikan lampu dan keluar dari kelas. Ia membiarkan Rani dan Budi tetap bersembunyi di balik lemari. Ia tahu bahwa mereka membutuhkan waktu untuk mengucapkan selamat tinggal.
Setelah guru piket itu pergi, Rani dan Budi keluar dari persembunyian mereka. Mereka saling menatap dan tersenyum.
“Sepertinya kita ketahuan,” kata Rani, tertawa pelan.
“Tidak apa-apa. Yang penting, kita sudah meninggalkan jejak pena di dinding sekolah ini,” jawab Budi, tersenyum lebar.
Mereka berdua keluar dari kelas dan meninggalkan sekolah. Mereka berjalan bergandengan tangan, menyusuri jalanan yang sepi. Mereka tahu bahwa malam itu akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi mereka.
Di balik papan tulis, di dinding lemari tua, terukir sebuah cerita tentang persahabatan. Sebuah cerita yang akan terus hidup, meskipun sekolah telah berubah dan waktu telah berlalu. Bisik-bisik di balik papan tulis akan terus terdengar, mengingatkan tentang jejak pena yang telah mereka tinggalkan.

